Paradoks Kebangkitan Nasional

Paradoks Kebangkitan Nasional:
Hardiknas, Harpitnas, dan Harkitnas 

Bulan Mei senantiasa terasa istimewa karena memuat dua momentum besar, yakni hari pendidikan dan hari kebangkitan nasional. Namun, momentum hari kebangkitan terasa sebagai sebuah paradoks karena berhimpitan dengan cuti bersama, long weekend, (harpitnas) yang identik dengan aktivitas bersantai. Tentu momentum seperti ini mengundang pertanyaan, sebenarnya, kita mau bangkit atau mau bersantai?


Jika memang mau bangkit, ada baiknya jika kita belajar pada bangsa-bangsa yang terbukti berhasil bangkit. Korea misalnya. Perekonomian, pendidikan, otomotif, olahraga mereka bangkit “mendunia” ternyata bukan karena SDA yang berlimpah, namun karena spirit produktivitas yang mengejawantah dalam bentuk kerja keras. Data rekam jejak kebangkitan bangsa Korea, Jepang, dan negara maju lainnya sudah berseliweran di dunia maya, bahkan seringkali dikutip dalam berbagai sambutan serimonial. Namun, spirit produktivitas tampaknya juga belum banyak merasuk dalam kinerja kita secara umum. Fenomena “bersantai” pada jam kerja masih sering dijumpai dalam berbagai pemberitaan media. Tentu tulisan ini tidak dimaksudkan untuk “memandang tinggi negara lain dan merendahkan negara sendiri”, tetapi sebagai otokritik agar kita lebih serius dengan kebangkitan bangsa ini. 

Dari mana kita memulai narasi kebangkitan? Sebagai pendidik, penulis sangat yakin bahwa pendidikan bisa dijadikan titik tumpu. Rekam jejak kebangkitan bangsa-bangsa maju membuktikan bahwa kemajuan mereka rata-rata bermula dari pengelolaan aspek pendidikan yang superserius. Finlandia, misalnya, negara kecil itu dinobatkan mempunyai pendidikan terbaik di dunia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat warga negaranya cerdas. Apa kuncinya sehingga Finlandia terbaik?

Berbagai sumber menyebutkan bahwa kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia, pendidikan dan pelatihan terbaik diberikan kepada para guru. Karena itu, profesi guru sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian. Maka, Finlandia lebih fokus membelajarkan siswa untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK.

Bagaimana dengan pendidikan Indonesia? Alhamdulillah, pemerintah kita sudah menunjukkan greget yang baik untuk membenahi sektor pendidikan dengan kucuran anggaran nasional yang lumayan besar. Namun, dalam praksis memperlakukan guru seringkali terjadi malpraktik. Guru-guru sering diperlakukan hanya menjadi “tukang mengajar” bukan “arsitek pembelajaran.” Guru, terlebih yang mengampu bidang studi Unas, hanya boleh menjadi tukang mengajar, hak dan kewajiban menilai siswa dirampas oleh negara melalui ujian nasional. Jangankan menilai, mengawasi ujian saja tak boleh, gerak-geriknya bahkan harus diawasi polisi. 

Sungguh, negara tidak mempercayai guru yang mereka angkat sendiri. Parade ujian yang dihindari Finlandia, di negeri kita justru “diberhalakan”. Menjelang ujian, seluruh siswa merasa tersihir dengan ketakutan masal, guru sumpek, orangtua stress sehingga memerlukan ritual doa bersama menjelang ujian yang membuat sebagian siswa pingsan dicekam rasa takut yang berlebihan. Semoga hal ini juga akan menjadi perhatian negara jika bangsa ini “diproyeksikan” bangkit sebagai negara maju.

Kebangkitan Jepang juga bermula dari pendidikan yang serius. Sebagai bangsa dengan SDA terbatas dan rusak oleh PD II, Jepang menyadari bahwa tidak ada yang bisa diandalkan kecuali keseriusan membangun kultur kerja keras melalui “kebangkitan nasional”. Ada kisah inspiratif di balik hancurnya Hiroshima dan Nagasaki yang dibom oleh AS pada tahun 1945. Melihat rusaknya negeri karena bom itu, pemimpin Jepang sedih dan bertanya untuk mengukur peluang kebangkitan, dengan pertanyaan, “Berapa guru yang masih tersisa?” Bermula dari pendidikan, utamanya guru yang berdaya itulah Jepang bisa segera bangkit menjadi salah satu “raksasa” dunia sebagaimana kita saksikan era sekarang ini. 

Bagaimana produktivitas guru kita? Wurianto Saksomo dalam sebuah blog pribadinya http://wuriantos.blogspot.com/ sempat menghitung produktivitas guru secara umum. Berdasarkan PP Nomor 74 Tahun 2008, beban kerja guru untuk melaksanakan pembelajaran paling sedikit 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam tatap muka per minggu. Beban tersebut merupakan bagian jam kerja dari jam kerja sebagai PNS yang secara keseluruhan paling sedikit 37,5 jam kerja dalam 1 minggu. Yang terjadi di lapangan, ada sejumlah guru yang tidak memenuhi minimal jam kerja. Sebab, 24 jam tatap muka (JTM) guru bukan berarti masing-masing jam berisi 60 menit. Alokasi waktu 1 JTM itu 45 menit untuk SLTA, 40 menit untuk SLTP, dan 35 menit untuk SD. Bila 24 JTM, itu berarti membutuhkan waktu 1.080 menit (24x45 menit) untuk guru SLTA dalam seminggu. Bahkan untuk guru SD membutuhkan waktu 840 menit (24x35 menit). Coba bandingkan dengan standar minimal jam kerja PNS yakni 37,5 jam yang berarti 2.250 menit (37,5x60 menit). Dengan demikian untuk guru SLTA itu masih ada jam kerja wajib sebagai PNS sebesar 1.170 menit atau untuk guru SD ada 1.410 menit selain jam tatap muka selama seminggu.

Kemana waktu “produktif” itu dimanfaatkan? Belum ada penelitian resmi. Tanpa mengurangi rasa hormat pada guru yang merasa bekerja non-stop, ternyata ada sebagian guru, semoga saja sebagian kecil sekali, yang meninggalkan tempat tugas (sekolah) bila jam mengajarnya telah selesai. Atau tidak masuk kerja di sekolah jika pada hari itu tidak ada jadwal mengajar. Itupun masih berharap mendapatkan bonus hari kejepit nasional (harpitnas).
Sahabat-sahabat guru, fakta sejarah dunia membuktikan bahwa sebuah bangsa bisa bangkit jika sektor pendidikan dikelola superserius dan produktif. Mari membuka harapan kebangkitan negeri ini melalui kinerja produktif kita sebagai guru. Tetap semangat! 

(Suhadi, konsultan pendidikan, penulis buku “Menjadi Guru Bintang”)

<< Go back to the previous page


Published on  February 12th, 2018


VISI SEMESTA Foundation

Alamat: Jatisari Permai II/F29, Waru, Sidoarjo, Telp: (031) 7123 2002 / 0823 3063 4050


© 2018 - Visi Semesta